Selasa, 17 September 2019

REVIEW JURNAL: KONTESTASI ABANGAN-SANTRI PASCA ORDE BARU DI PEDESAAN JAWA


PENGARANG:Yogi Setya Permana. Peneliti di Pusat Penelitian Politik (LIPI) dan Peminat Kajian Contentious Politics.
REVIEWER: Bagus Bahtiar. Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. 2017
SUMBER JURNAL: https://scholar.google.co.id/. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Volume 14, Nomor 1, Juli 2010 



Ringkasan Pembahasan Jurnal
Rampungnya masa pemerintahan baru pada 1998 yang kemudian memasuki masa reformasi memberi momentum pada kaum santri ataupun abangan di klaten, kenaikan sensitifitas antar kedua belah lapisan masyarakat ini merupakan dampak dari adanya pembangunan kapel yang menyulut  ketegangan yang sebelumnya bersifat laten.
Kontestasi politik antara Abangan dan santri di ngandong pada jurnal JPS ini menggunakan analisis Contestious Politics sebab melibatkan para aktor yang kemudian saling klaim satu sama lain dengan ditambah narasi yang bersifat kampanye dalam berberapa bentuk seperti aksi pertemuan ataupun petisi yang diperkuat secara institusional maupun ektrainstitusional yang memiliki pengaruh besar terhadap dinamika konflik abangan santri di ngandong. Di dalam karya tersebut juga menyebutkan mengenai kriteria kunci dalam contentious politics ialah pertama,  identity formation yaitu pembentukan identitas sehingga berpotensi menciptakan tindakan kolektif ?. Kedua, scale shift yaitu bagaimana sebuah konflik yang mulanya kecil mengalami eskalasi sehingga melibatkan aktor-aktor yang jauh lebih banyak?. Ketiga, polarization yaitu bagaimana ruang politis antarpihak yang saling berseteru meluas ketika mereka saling menjauh menuju kedua titik ekstrim dan tidak ada pihak yang berada pada posisi moderat? Keempat, mobilization (Mobilisasi), yaitu bagaimana orang yang biasanya apatis (acuh-tak acuh) dapat digerakkan untuk ikut serta dalam gerakan? Kelima, actor Constitution (pembentukan aktor), yaitu bagaimana sebuah kelompok yang sebelumnya tidak terorganisasi atau apolitis berubah menjadi sebuah aktor politik tunggal?
Identitas dalam karya ini diartikan sebagai  kelompok atau perseorang muslim yang terakulturasi dengan adat jawa yang berdasar pada nilai nilai kejawennya namun tetap pada relativisme doktrin agama Islam. Maka kelompok abangan diartikan sebagai kelompok yang tidak melakukan aktifitas islam yang secara utuh melainkan masih berada pada garis kultur jawa sehingga aktivitas keagamaannya masih berupa implementasi adat seperti contohnya nyadran dan slametan. Sedangkan santri melihat bahwa seseorang belum dikatakan Islam bila tidak melaksanakan syariat terutama ibadah sholat fardlu. Degradasi sudut pandang yang demikian yang menjadikan kondisi daera ngandong menjadi bergejolak.
Adanya framing masyarakat desa yaitu apabila ada salah satu adat yang tidak dilaksanakan diartikan sebagai hal yang tidak wajar serta mendapat sanksi sosial sehingga hal tersebut kemudian membuat komonitas abangan masih terus bertahan. Mayoritas dari penduduk Ngandong berorientasi Islam Jawa. Islam Jawa muncul sebagai bagian dari proses panjang dialog antara tradisi mistisisme (sufisme) Islam yang berasal dari Kerala (India) dengan paham tradisionalisme Jawa. Dijelaskan pula bahwa keberadaan abangan di ngandong bukan hanya karna penafsiran dalam agama tetapi secara historis wilayah ngandong merupakan basis dari PKI dan PNI yaitu organisasi berlatarbelakang komunis dan nasionalis. Namun merujuk pendapat C. Geertz yang melihat bahwa keberadaan abangan-santri berkaitan erat dengan basis ekonomi atau pekerjaan tertentu.
            Di sisi lain kaum santri yang notabene berasal dari keberagaman golongan menciptakan stereotype tersendiri di masing masing golongan. Penerapan Islam substantif dan mengakomodasi kultur setempat merubah focus dakwah pada 1980an menjadi berpusat pada masalah tauhid atau keesaan Tuhan, Berbeda dengan kelompok yang bingkai Framingnya adalah purifikasi atau pemurnian Islam. Kerapatan sosiologis santri bertumpu pada organisasi baik Muhammadiyah ataupun Nahdlatul Ulama. Pasca 1999, Jaula’ atau jamaah tabliq adalah salah satu contoh varian baru dari komunitas santri. JT menghadirkan wajah Islam yang keras dan nonkompromi di Ngandong. Hal tersebut juga memicu adanya pertentangan bagi abangan sebab pola dakwahnya dengan mengetuk pintu rumah masyarakat abangan untuk diajak langsung ikut sholat di masjid dan meninggalkan aktivitas normatif dalam budaya abangan seperti nyadran dan slametan. Komunitas jaula’ menganggap bahwa masyarakat yang menganut orientasi religius abangan adalah musyrik dan harus dimurnikan. Banyak sekali ritual-ritual tradisi desa yang menyalahi Al-Quran dan Hadits menurut jamaah tabliq
Puncak ketegangan di ngandong terjadi pasca orde baru oleh keberadaan dari polarisasi antara abangan dan santri ini ialah keterbukaan kondisi lingkungan pedesaan di ngandong dimana pasca orde baru Indonesia mengalami fase demokratisasi dari yang sebelumnya bersifat tertutup di tatanan kepengurusan desa menjadi terbuka sehingga kaum santri di ngandong yang notabene merupakan pendatang memiliki dan mampu berkembang karena keterbukaan tersebut. Di sisi lain kontruksi kultural serta pembangunan kapel pada tahun 1999 di ngandong oleh kepala desa Leonardus Sukiman yang diprotes oleh kaum santri muda yang disegani di ngandong. Alasan menentang pembangunan kapel antara lain: pertama, belum meminta izin penduduk setempat; kedua, didirikan di wilayah pemukiman yang mayoritas dihuni umat Islam (meskipun sebatas hanya di catatan KTP karena kebanyakan adalah abangan); ketiga, belum ada keputusan bupati; keempat, tokoh-tokoh dan perwakilan beberapa elemen tidak pernah diajak berembug dalam pengambilan kebijakan padahal ada struktur BPD (Badan Perwakilan Desa) yang seharusnya menjadi mitra kepala desa dalam pembuatan kebijakan. Selanjutnya keberadaan  TK ABA  menuai kontroversial oleh TK Pertiwi pada tahun 2000 sehingga memicu ketegangan di masyarakat pedesaan. TK tersebut didirikan oleh  Saniman, Sekjen Gapensi Klaten yang memiliki hubungan oligarkis terhadap birokrat desa sehingga lebih dianggap sebagai kaum abangan. Dalam karya ini juga menyebutkan bahwa dari dua peristiwa tersebut dapat mengilustrasikan polarisasi yang merupakan bagian dari cerita besar kontestasi

Kelebihan Jurnal: memaparkan narasi secara jelas dan terstruktur dengan baik sehingga membuat pembaca memahami secara runut variabel yang dibahas dan dikembangkan sehingga tidak membingungkan pembaca.

Kelemahan Jurnal: kelemahan terletak pada segi perumusan terkait penggunaan sumber yang merujuk pada peristiwa langsung lebih diutamakan pada sumber wawancara tanpa ada menunjukan  bukti arsip berita ataupun dokumen sejaman. meskipun wawancara terhadap pelaku atau saksi pertama dianggap kuat. penambahan bukti tertulis yang sejaman apalagi bila terkait konflik yang melibatkan golongan formil tentunya terdapat bukti pencatatan dalam struktur kelembagaan tertentu dapat memperkuat argumentasi. hal tersebut nampak pada penggunaan tahun peristiwa yang sering dilupakan dalam beberapa argumen yang mengarah pada masa tertentu.




sekian review dari jurnal Kontestasi Abangan-Santri Pasca Orde Baru di Pedesaan Jawa karya Yogi Setya Permana, terimakasih !

Salam Petromax: "cahaya dari masa ke masa". 

13 komentar:

  1. review jurnal yang cukup bagus. sering-sering review jurnal yang lain.

    BalasHapus
  2. Review yang menarik.
    Mungkin review nya bisa ditambahkan tentang metode yang dipakai, agar lebih paham.
    Salam petromax!

    BalasHapus
  3. Sangat informatif. Pemilihan kata dalam setiap kalimat menarik. Good job

    BalasHapus
  4. Sangat memberikan banyak pengetahuan, terus lanjutkan blogmu dengan konten2 yg bermanfaat

    BalasHapus
  5. Kontestasi politik antara Abangan dan santri di pedesaan pasca orde baru sangat menarik untuk dijadikan pembahasan, bermanfaat sekali, dan bisa untuk menambah referensi penulisan sejarah.

    BalasHapus
  6. Sangat menarik, tulisannya mudah di pahami serta menambah wawasan mengenai kontestasi abangan dan santri di pedesaan pasca orde baru, jangan lupa mampir mas

    BalasHapus
  7. Salam silaturasa, REVIEW JURNAL: KONTESTASI ABANGAN SANTRI PASCA ORDE BARU DI PEDESAAN JAWA menurut saya review ini sangat menarik dan lengkap, meskipun saya belum memahami sepenuhnya.

    BalasHapus
  8. Review jurnal sangat menarik, memberikan informasi dengan jelas.

    BalasHapus
  9. Review yang menarik sehingga dapat menonjolkan santri karena Rampungnya masa pemerintahan baru pada 1998 yang kemudian memasuki masa reformasi memberi momentum pada kaum santri ataupun abangan di klaten, kenaikan sensitifitas antar kedua belah lapisan masyarakat ini merupakan dampak dari adanya pembangunan kapel yang menyulut ketegangan yang sebelumnya bersifat laten.

    BalasHapus
  10. Review yang menarik.. Pembaca menjadi mengerti tentang kontestasi abangan

    BalasHapus
  11. Review sudah baik dan sangat informatif

    BalasHapus
  12. Review sudah baik, akan tetapi coba mencari jurnal yang lain agar ada pembanding. Dan coba mencari beberapa skripsi yang terkait agar mendapatkan bukti bukti yang relevan

    BalasHapus
  13. Secara kultural, identitas dan budaya santri-abangan sangat kental terjadi di Ngandong. Interaksi antara keduanya yang mengarah ke kontestasi terjadi secara struktural di mana pertentangan untuk memperoleh kekuasaan di level lokal yang menjadi salah satu indikatornya. Kontestasi yang bisa juga dikatakan sebagai konflik untuk memperoleh kekuasaan antara kaum santri dan abangan dipengaruhi oleh kedua faktor kultural dan struktural in

    BalasHapus